• Istighfarku Perlu Diistighfari
Rabi’ah al-Adawiyah pernah berkomentar singkat: “Istighfar kita sesungguhnya masih membutuhkan istighfar.”
Beliau menguraikan lebih lanjut bahwa pada saat mengucapkan “Astaghfirullah... astaghfirullah…”, hatiku tidak tersambung kepada Allah. Hal ini tak ubahnya seperti meminta maaf kepada seseorang atas suatu kesalahan sambil tertawa “Hahaha, maafkan aku, maafkan aku” dan berlalu. Itu namanya kurang ajar. Minta maaf itu artinya merasa bersalah. Jadi, harus dilakukan dengan perasaan yang hancur dan penuh malu.
(Dikutip dari: Al-Habib Ali al-Jufri dalam buku “Terapi Ruhani untuk Kita”, halaman 68 dan imtiyaz-publisher.blogspot.com).
Rabi’ah al-Adawiyah pernah berkomentar singkat: “Istighfar kita sesungguhnya masih membutuhkan istighfar.”
Beliau menguraikan lebih lanjut bahwa pada saat mengucapkan “Astaghfirullah... astaghfirullah…”, hatiku tidak tersambung kepada Allah. Hal ini tak ubahnya seperti meminta maaf kepada seseorang atas suatu kesalahan sambil tertawa “Hahaha, maafkan aku, maafkan aku” dan berlalu. Itu namanya kurang ajar. Minta maaf itu artinya merasa bersalah. Jadi, harus dilakukan dengan perasaan yang hancur dan penuh malu.
(Dikutip dari: Al-Habib Ali al-Jufri dalam buku “Terapi Ruhani untuk Kita”, halaman 68 dan imtiyaz-publisher.blogspot.com).
No comments:
Post a Comment